Kalau kita memutar waktu ke tahun 1979, ada satu peristiwa besar di Timur Tengah yang efek dominonya sampai terasa ke tanah air: Revolusi Islam Iran. Buat masyarakat dunia, tumbangnya rezim Shah Iran saat itu benar-benar bikin kaget. Tapi buat umat Islam di Indonesia, momen itu seperti alarm yang membangunkan dari tidur panjang.
Nggak bisa dipungkiri, gelombang revolusi ini membawa angin segar yang luar biasa. Tapi di sisi lain, ada juga yang istilahnya “kebablasan” dalam menerjemahkan semangat tersebut. Yuk, kita bedah dua sisi tersebut dari efek revolusi ini di Indonesia.
Sisi Terang: Kebangkitan Identitas dan Intelektual
Efek positif dari peristiwa 1979 ini kerasa banget, terutama buat anak-anak muda dan mahasiswa pada masa itu. Tiba-tiba, ada gairah baru untuk lebih kenal dengan agama sendiri.
* Meledaknya Kajian Keislaman: Kampus-kampus yang tadinya cuma sibuk urusan akademis kiri-kanan, mendadak ramai dengan diskusi agama. Pemuda Pemudi mulai keranjingan baca buku-buku pemikiran Islam. Agama nggak lagi dilihat sekadar ritual di masjid, tapi sebagai solusi kehidupan dan sistem sosial. Daya kritis anak muda jadi naik level.
* Gerakan Hijab yang Makin Masif: Buat kita kita yang lahir di era 2000-an mungkin nggak tahu, tapi dulu pakai jilbab di sekolah atau kampus itu susah banget dan sering dilarang (kebijakan Orde Baru). Nah, keberhasilan revolusi di Iran ngasih suntikan pede yang luar biasa buat muslimah di Indonesia. Jilbab mulai dilihat bukan cuma sebagai kewajiban agama, tapi juga simbol identitas dan perlawanan terhadap aturan yang represif.
* Keberanian Bersikap: Kaula muda saat itu dapet inspirasi besar bahwa perubahan itu mungkin terjadi kalau masyarakat mau bergerak. Ada semangat kemandirian politik yang bikin anak-anak muda makin melek sama kondisi ketidakadilan di sekitarnya.
Sisi Gelap: Distorsi Semangat yang Berujung Teror
Sayangnya, euforia kebangkitan ini nggak semuanya berujung manis. Ada segelintir pihak yang menelan mentah-mentah konsep "revolusi islam Iran" tanpa melihat konteks, dan akhirnya malah menyimpang jauh dari nilai Islam itu sendiri.
* Lahirnya Sel Radikal: Semangat untuk meruntuhkan rezim tiran (dalam konteks Indonesia saat itu, Orde Baru) disalahartikan oleh beberapa kelompok ekstrem. Mereka merasa bahwa cara satu-satunya untuk melakukan perubahan adalah lewat kekerasan dan instabilitas keamanan.
* Teror terhadap Minoritas & Fasilitas Umum: Imbas paling fatal dari penyimpangan ini adalah rentetan aksi teror di pertengahan 1980-an. Seperti sejarah kelam pengeboman Gereja di Malang pada Malam Natal 1984, atau peledakan Candi Borobudur di awal 1985. Para pelakunya adalah kelompok lokal yang sangat terobsesi dengan gaya perlawanan bersenjata ala revolusi, tapi targetnya malah menyasar ke kelompok minoritas dan simbol budaya.
* Kehilangan Esensi: Alih-alih membangun tatanan masyarakat yang lebih baik seperti semangat awal kebangkitan Islam, aksi-aksi teror ini malah bikin citra Islam & pemerintah Iran itu sendiri tercoreng. Kekerasan jalan pintas ini murni bentuk keputusasaan politik yang dibungkus dengan jubah agama, dan jelas melenceng dari esensi rahmat yang dibawa oleh Islam.
Kesimpulannya yang bisa sama sama kita ambil
Revolusi Islam Iran 1979 adalah bukti nyata gimana sebuah peristiwa politik di ujung dunia bisa mengubah lanskap sosial di negara kita. Di satu sisi, ia sukses melahirkan generasi muslim yang lebih terpelajar, kritis, dan bangga dengan identitasnya. Tapi di sisi lain, sejarah kelam tahun 80-an juga jadi pengingat keras buat kita: semangat perubahan yang nggak dibarengi dengan pemahaman ilmu dan konteks yang tepat, cuma akan melahirkan kehancuran & teror.
Referensi:
1. Majalah Tempo. (Arsip 1990-1991). Laporan Persidangan Kasus Peledakan Candi Borobudur dan Gereja Malang. Jakarta: Tempo Data Science.
2. Al-Chaidar. (1999). Bencana Kaum Muslimin di Indonesia 1980-2000. Yogyakarta: Wihdah Press.
3.Bruinessen, Martin van. (2002). Genealogies of Islamic Radicalism in post-Suharto Indonesia. South East Asia Research.
4.Kurniawan, K. (2010). Sejarah Jilbab di Indonesia. Jurnal Sejarah dan Kebudayaan.
5. Anwar, M. Syafi'i. (1995). Pemikiran dan Aksi Islam Indonesia: Sebuah Kajian Politik tentang Cendekiawan Muslim Orde Baru. Jakarta: Paramadina.


Ini blogger yang sangat bermanfaat , aslii
BalasHapus